Sunday, April 14, 2013

Tercebur ke Laut, 101 Penumpang Selamat


 Pesawat Lion Air terbelah dua usai tercebur ke laut
Denpasar, Padek—Dunia pe­ner­bangan Indonesia kem­bali diter­pa musibah. Kemarin (13/4), pesa­wat Lion Air rute Ban­jar­masin–Bandung–Den­pasar ter­ce­bur ke laut beberapa saat sebelum menyentuh lan­dasan, di Bandara Ngurah Rai Den­pa­sar. Mujur tak ada kor­ban jiwa dalam musibah yang terjadi sekitar pukul 15.30 Wita ter­sebut. Kondisi bandara ber­ba­tasan langsung dengan laut memberi andil besar pada terse­lamatkannya penumpang.

Pesawat Boeing 373 800 NG (Next Generation) dengan no­mor penerbangan JT 960 itu membawa 101 penumpang (ter­masuk 5 anak dan 1 bayi) plus 7 kru. Setelah terjatuh ke laut dangkal, badan pesawat terbelah di bagian ekor.

Para penumpang yang me­nga­lami luka-luka langsung dievakuasi ke beberapa rumah sakit terdekat. Hanya sepuluh orang dikirim ke RSUP Sanglah Denpasar, yang lokasinya cukup jauh dari Bandara Ngurah Rai. “Seluruh penumpang langsung dievakuasi tim dan sejumlah pihak ke rumah sakit terdekat,” terang Kapolda Bali Irjen Pol Arief Wachyunadi.

Para penumpang berhasil selamat, karena langsung keluar dari pintu darurat di bagian kiri dan kanan badan pesawat. Me­reka menggunakan pelam­pung. “Semua kru juga langsung mem­bantu evakuasi,” kata Wach­yu­nadi.

Pesawat dipiloti kapten M. Ghazali dan kopilot warga negara Belanda itu terjatuh sekitar 50 meter sebelum lan­dasan. Saat kejadian, cuaca di sekitar ban­dara berawan. Bah­kan, di atas laut sebelum ban­dara terlihat awan hitam. Diper­kirakan hal itu menjadi salah satu pemicu kece­lakaan. Sebab, dengan kondisi tersebut, jarak pandang pilot terbatas.

Setelah evakuasi, diketahui sekitar 50 penumpang terluka. Kebanyakan di antara mereka lecet-lecet karena benturan. Salah satunya adalah Juan Ig­natius Senduk, 48. Pria asal Bandung itu pergi ke Denpasar bersama seorang teman untuk urusan pekerjaan.

“Sebelumnya tidak ada fira­sat apapun tentang kece­lakaan ini. Cuma, saat mau jatuh itu saya lihat ke luar, kok dekat sekali dengan laut.

 Tahunya sudah tercebur saja. Untung ke laut.

Kalau ke darat, mati saya,” ujar pria yang mengalami luka lecet di muka dan kaki itu.

Penumpang lain, Dewi, 49, yang dirawat di RSUP Sanglah, mengatakan, awalnya dirinya sama sekali tidak merasa bahwa pesawat yang ditumpangi bakal mengalami musibah. Sebab, sepanjang perjalanan dari Ban­dung menuju Bali, pener­bangan mulus.

Namun, kondisi itu berubah karena pesawat terasa sedikit oleng sesaat sebelum mendarat di laut.

“Apalagi sebelum jatuh, tidak ada pemberitahuan dari pilot bahwa pesawat akan jatuh,” ujar perempuan asal Manado itu.

Dewi mengaku duduk di kursi nomor 22 dan berada persis di pinggir (tidak mau menyebut 22 A atau 22 F). Dengan posisi tersebut, dia bisa melihat kondisi di luar sebelum pesawat jatuh. Karena itu, beberapa detik sebelum pesawat menyentuh air laut dia sempat melihat ke kaca jendela dan mengetahui bahwa pesawat sudah dekat dengan air.

“Saya duduk di pinggir dan dekat jendela. Makanya, ketika pesawat agak menukik ke bawah secara tiba-tiba, saya sempat melihat dari jendela. Kok air lautnya sudah dekat sekali di bawah pesawat,” tutur dia.

“Habis itu, sudah langsung bruuukkkk. Pesawat seperti kemasukan air. Dan memang beberapa saat kemudian di dalam pesawat sudah ada air,” sambungnya.

Saat pesawat menyentuh air laut, terjadi entakan. Akibatnya, beberapa penumpang terbentur bodi pesawat. Ada yang terbentur bagian samping, atap, dan kursi. Setelah itu, puncak kepanikan terjadi. Para penumpang berebut keluar sambil berdesakan. “Saya keluar lewat pintu dekat sayap,” ujar Dewi.

Perempuan yang masih terlihat shock itu bersyukur karena ketika keluar dari pesawat, dirinya melihat bahwa daratan tidak terlalu jauh. “Dengan bantuan beberapa orang, saya bisa keluar,” sambungnya seraya mengaku tak mengalami luka parah. “Saat keluar, sudah banyak orang di luar. Pramugarinya juga ikut membantu kami,” sambung dia.

Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUP Sanglah dr A.A.N. Jaya Kusuma SpOG (K) memaparkan, kondisi sepuluh korban yang dikirim ke RSUP Sanglah tidak begitu parah. Sebagian besar korban lecet dan memar. Luka itu disebabkan benturan. Setelah menjalani pemeriksaan, seluruh korban diperbolehkan pulang. “Perincian korban, satu dari Manado, enam dari Bandung, dan sisanya dari Bali. Ada yang pulang ke rumah, ada yang kembali ke bandara,” ujar Jaya.

Di antara pasien yang menjalani rawat inap, ada yang mengalami cedera kepala ringan, cedera leher, dan patah kaki. Selain RSUP Sanglah, korban dikirim ke RSU Kasih Ibu Denpasar dan RSU Kasih Ibu Tabanan.

Proses evakuasi korban kecelakaan itu berjalan cukup cepat. Hanya sekitar satu jam. Sebab, semua sumber daya dikerahkan untuk menyelamatkan penumpang. Mulai petugas keselamatan bandara, polisi, TNI-AL, hingga nelayan pun ikut membantu. “Kami evakuasi penumpang dengan menggunakan bus bandara dan ambulans,” ujar Heru, pegawai PT Angkasa Pura 1 yang ikut mengevakuasi penumpang.

Heru menjelaskan, korban yang mengalami luka-luka segera diangkut dengan ambulans. Sedangkan yang tidak terluka dikumpulkan di ruang crisis center yang disiapkan pihak bandara. Seluruh penumpang lalu didata dan dicocokkan dengan manifes atau daftar penumpang. Petugas berusaha menenangkan sejumlah penumpang yang shock.

Menurut Heru, cuaca di sekitar bandara sebelumnya cukup cerah. Namun, beberapa saat kemudian turun hujan. Sedangkan di atas laut sebelah barat bandara, terlihat awan hitam.

Kapolda menambahkan, insiden tersebut merupakan yang pertama di Bandara Ngurah Rai. “Pesawat belum sentuh runway. Ini kali pertama dan tim penyelamat langsung mengevakuasi,” ungkapnya.

Pilot Belum Tes Urine

Sementara itu, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menyatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan penyebab kecelakaan pesawat Boeing 373 800 NG di Bali. Dalam keterangan persnya kemarin, dia hanya bisa memastikan bahwa pesawat tersebut masih baru. “Pesawat itu didatangkan ke sini pertengahan Maret 2013,” terangnya kemarin.

Edward juga tidak bersedia menjelaskan kerusakan yang dialami pesawat itu dengan alasan tidak tahu. Yang jelas, menurut dia, sebelum kecelakaan, pesawat itu laik terbang.

Edward juga memastikan bahwa saat ini kondisi Ghazali selaku pilot pesawat itu baik-baik saja. Namun, saat ditanya apakah Ghazali menjalani tes kesehatan ataupun tes urine sebelum terbang kemarin, Edward terdiam. Dia kemudian mengatakan bahwa setiap pilot menjalani tes kesehatan rutin enam bulan sekali. Sedangkan tes urine dilakukan secara acak. “Hari ini (kemarin, red) Ghazali tidak menjalani tes urine,” ucapnya.

Pertanyaan seputar tes kesehatan menyeruak, karena tahun lalu Lion Air mendapat aib. Dua pilotnya tertangkap sedang mengonsumsi sabu-sabu di Makassar dan Surabaya. Ironisnya, kegiatan terlarang itu dilakukan hanya beberapa jam sebelum terbang.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim kala itu, Jan de Fretes mengungkapkan, potensi bahaya jika pilot nyabu sebelum terbang. “Pilot yang dalam pengaruh sabu bisa salah mengira bahwa dia telah mendapat jarak aman untuk mendarat di landasan. Padahal, saat itu dia masih jauh dari landasan,” ujarnya kala itu.

Hal tersebut diistilahkan sebagai disorientasi ruang dan waktu. Jika itu terjadi, pesawat yang dikemudikan sangat potensial tergelincir, bahkan mengalami kecelakaan yang lebih parah. Seusai penggerebekan tahun lalu, Edward juga menyatakan bahwa tes urine sebelum terbang dilakukan dengan cara sampling.            

Edward menambahkan, untuk informasi teknis mengenai kecelakaan pesawat tersebut, pihaknya menunggu hasil investigasi pihak berwenang, dalam hal ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Yang jelas, seluruh penanganan penumpang, termasuk pengobatan mereka, menjadi tanggung jawab penuh Lion Air.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga merespons insiden pesawat Lion Air itu. Dia menyatakan telah mendengar kabar tentang musibah yang terjadi di Bali tersebut. “Saya mengikuti terus,” ujar SBY di Istana Cipanas kemarin.

SBY menuturkan telah berkomunikasi dengan Menhub E.E. Mangindaan soal upaya penanganan dan evakuasi korban insiden tersebut. Dia bersyukur karena kecelakaan pesawat itu tidak sampai memakan korban jiwa. “Satu yang saya syukuri. Meski ini kecelakaan, tapi tidak ada korban. Saya minta perawatan yang luka-luka itu. Diatasi pesawat yang tidak pada tempatnya dan investigasi mengapa itu terjadi,” tuturnya.

Tidak sekadar memanfaatkan media massa, SBY yang baru saja me-launching akun Twitter pribadinya juga menuangkan keprihatinan melalui akun miliknya @SBYudhoyono. Tweet soal musibah Lion Air tersebut menjadi tweet kedua yang diunggah SBY.

“Melalui media Twitter ini, saya menyampaikan, bisa diketahui mengapa terjadi kecelakaan. Itu oversuit melebihi runway yang ada. Saya kirim tweet kedua berkaitan dengan itu,” jelasnya.

“Terhadap kecelakaan Lion Air di Bali, saya telah menginstruksikan Menhub untuk merawat yang luka dan melakukan investigasi,” tulisnya. (pra/nik/dra/art/yes/din/jpnn)

[ Red/Administrator ]
#Source From : http://padangekspres.co.id/ 

Kualitas Halaman Ini

Followers