Denpasar, Padek—Dunia
penerbangan Indonesia kembali diterpa musibah. Kemarin (13/4),
pesawat Lion Air rute Banjarmasin–Bandung–Denpasar tercebur ke
laut beberapa saat sebelum menyentuh landasan, di Bandara Ngurah Rai
Denpasar. Mujur tak ada korban jiwa dalam musibah yang terjadi
sekitar pukul 15.30 Wita tersebut. Kondisi bandara berbatasan
langsung dengan laut memberi andil besar pada terselamatkannya
penumpang.
Pesawat Boeing 373 800 NG (Next Generation)
dengan nomor penerbangan JT 960 itu membawa 101 penumpang (termasuk 5
anak dan 1 bayi) plus 7 kru. Setelah terjatuh ke laut dangkal, badan
pesawat terbelah di bagian ekor.
Para penumpang yang mengalami luka-luka
langsung dievakuasi ke beberapa rumah sakit terdekat. Hanya sepuluh
orang dikirim ke RSUP Sanglah Denpasar, yang lokasinya cukup jauh dari
Bandara Ngurah Rai. “Seluruh penumpang langsung dievakuasi tim dan
sejumlah pihak ke rumah sakit terdekat,” terang Kapolda Bali Irjen Pol
Arief Wachyunadi.
Para penumpang berhasil selamat, karena
langsung keluar dari pintu darurat di bagian kiri dan kanan badan
pesawat. Mereka menggunakan pelampung. “Semua kru juga langsung
membantu evakuasi,” kata Wachyunadi.
Pesawat dipiloti kapten M. Ghazali dan
kopilot warga negara Belanda itu terjatuh sekitar 50 meter sebelum
landasan. Saat kejadian, cuaca di sekitar bandara berawan. Bahkan, di
atas laut sebelum bandara terlihat awan hitam. Diperkirakan hal itu
menjadi salah satu pemicu kecelakaan. Sebab, dengan kondisi tersebut,
jarak pandang pilot terbatas.
Setelah evakuasi, diketahui sekitar 50
penumpang terluka. Kebanyakan di antara mereka lecet-lecet karena
benturan. Salah satunya adalah Juan Ignatius Senduk, 48. Pria asal
Bandung itu pergi ke Denpasar bersama seorang teman untuk urusan
pekerjaan.
“Sebelumnya tidak ada firasat apapun
tentang kecelakaan ini. Cuma, saat mau jatuh itu saya lihat ke luar,
kok dekat sekali dengan laut.
Tahunya sudah tercebur saja. Untung ke laut.
Kalau ke darat, mati saya,” ujar pria yang mengalami luka lecet di muka dan kaki itu.
Penumpang lain, Dewi, 49, yang dirawat di
RSUP Sanglah, mengatakan, awalnya dirinya sama sekali tidak merasa bahwa
pesawat yang ditumpangi bakal mengalami musibah. Sebab, sepanjang
perjalanan dari Bandung menuju Bali, penerbangan mulus.
Namun, kondisi itu berubah karena pesawat terasa sedikit oleng sesaat sebelum mendarat di laut.
“Apalagi sebelum jatuh, tidak ada pemberitahuan dari pilot bahwa pesawat akan jatuh,” ujar perempuan asal Manado itu.
Dewi mengaku duduk di kursi nomor 22 dan
berada persis di pinggir (tidak mau menyebut 22 A atau 22 F). Dengan
posisi tersebut, dia bisa melihat kondisi di luar sebelum pesawat jatuh.
Karena itu, beberapa detik sebelum pesawat menyentuh air laut dia
sempat melihat ke kaca jendela dan mengetahui bahwa pesawat sudah dekat
dengan air.
“Saya duduk di pinggir dan dekat jendela.
Makanya, ketika pesawat agak menukik ke bawah secara tiba-tiba, saya
sempat melihat dari jendela. Kok air lautnya sudah dekat sekali di bawah
pesawat,” tutur dia.
“Habis itu, sudah langsung bruuukkkk.
Pesawat seperti kemasukan air. Dan memang beberapa saat kemudian di
dalam pesawat sudah ada air,” sambungnya.
Saat pesawat menyentuh air laut, terjadi
entakan. Akibatnya, beberapa penumpang terbentur bodi pesawat. Ada yang
terbentur bagian samping, atap, dan kursi. Setelah itu, puncak kepanikan
terjadi. Para penumpang berebut keluar sambil berdesakan. “Saya keluar
lewat pintu dekat sayap,” ujar Dewi.
Perempuan yang masih terlihat shock
itu bersyukur karena ketika keluar dari pesawat, dirinya melihat bahwa
daratan tidak terlalu jauh. “Dengan bantuan beberapa orang, saya bisa
keluar,” sambungnya seraya mengaku tak mengalami luka parah. “Saat
keluar, sudah banyak orang di luar. Pramugarinya juga ikut membantu
kami,” sambung dia.
Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan
RSUP Sanglah dr A.A.N. Jaya Kusuma SpOG (K) memaparkan, kondisi sepuluh
korban yang dikirim ke RSUP Sanglah tidak begitu parah. Sebagian besar
korban lecet dan memar. Luka itu disebabkan benturan. Setelah menjalani
pemeriksaan, seluruh korban diperbolehkan pulang. “Perincian korban,
satu dari Manado, enam dari Bandung, dan sisanya dari Bali. Ada yang
pulang ke rumah, ada yang kembali ke bandara,” ujar Jaya.
Di antara pasien yang menjalani rawat inap,
ada yang mengalami cedera kepala ringan, cedera leher, dan patah kaki.
Selain RSUP Sanglah, korban dikirim ke RSU Kasih Ibu Denpasar dan RSU
Kasih Ibu Tabanan.
Proses evakuasi korban kecelakaan itu
berjalan cukup cepat. Hanya sekitar satu jam. Sebab, semua sumber daya
dikerahkan untuk menyelamatkan penumpang. Mulai petugas keselamatan
bandara, polisi, TNI-AL, hingga nelayan pun ikut membantu. “Kami
evakuasi penumpang dengan menggunakan bus bandara dan ambulans,” ujar
Heru, pegawai PT Angkasa Pura 1 yang ikut mengevakuasi penumpang.
Heru menjelaskan, korban yang mengalami
luka-luka segera diangkut dengan ambulans. Sedangkan yang tidak terluka
dikumpulkan di ruang crisis center yang disiapkan pihak bandara. Seluruh
penumpang lalu didata dan dicocokkan dengan manifes atau daftar
penumpang. Petugas berusaha menenangkan sejumlah penumpang yang shock.
Menurut Heru, cuaca di sekitar bandara
sebelumnya cukup cerah. Namun, beberapa saat kemudian turun hujan.
Sedangkan di atas laut sebelah barat bandara, terlihat awan hitam.
Kapolda menambahkan, insiden tersebut merupakan yang pertama di Bandara Ngurah Rai. “Pesawat belum sentuh runway. Ini kali pertama dan tim penyelamat langsung mengevakuasi,” ungkapnya.
Pilot Belum Tes Urine
Sementara itu, Direktur Umum Lion Air
Edward Sirait menyatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan penyebab
kecelakaan pesawat Boeing 373 800 NG di Bali. Dalam keterangan persnya
kemarin, dia hanya bisa memastikan bahwa pesawat tersebut masih baru.
“Pesawat itu didatangkan ke sini pertengahan Maret 2013,” terangnya
kemarin.
Edward juga tidak bersedia menjelaskan
kerusakan yang dialami pesawat itu dengan alasan tidak tahu. Yang jelas,
menurut dia, sebelum kecelakaan, pesawat itu laik terbang.
Edward juga memastikan bahwa saat ini
kondisi Ghazali selaku pilot pesawat itu baik-baik saja. Namun, saat
ditanya apakah Ghazali menjalani tes kesehatan ataupun tes urine sebelum
terbang kemarin, Edward terdiam. Dia kemudian mengatakan bahwa setiap
pilot menjalani tes kesehatan rutin enam bulan sekali. Sedangkan tes
urine dilakukan secara acak. “Hari ini (kemarin, red) Ghazali tidak
menjalani tes urine,” ucapnya.
Pertanyaan seputar tes kesehatan menyeruak,
karena tahun lalu Lion Air mendapat aib. Dua pilotnya tertangkap sedang
mengonsumsi sabu-sabu di Makassar dan Surabaya. Ironisnya, kegiatan
terlarang itu dilakukan hanya beberapa jam sebelum terbang.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi
(BNNP) Jatim kala itu, Jan de Fretes mengungkapkan, potensi bahaya jika
pilot nyabu sebelum terbang. “Pilot yang dalam pengaruh sabu bisa salah
mengira bahwa dia telah mendapat jarak aman untuk mendarat di landasan.
Padahal, saat itu dia masih jauh dari landasan,” ujarnya kala itu.
Hal tersebut diistilahkan sebagai
disorientasi ruang dan waktu. Jika itu terjadi, pesawat yang dikemudikan
sangat potensial tergelincir, bahkan mengalami kecelakaan yang lebih
parah. Seusai penggerebekan tahun lalu, Edward juga menyatakan bahwa tes
urine sebelum terbang dilakukan dengan cara sampling.
Edward menambahkan, untuk informasi teknis
mengenai kecelakaan pesawat tersebut, pihaknya menunggu hasil
investigasi pihak berwenang, dalam hal ini Komite Nasional Keselamatan
Transportasi (KNKT). Yang jelas, seluruh penanganan penumpang, termasuk
pengobatan mereka, menjadi tanggung jawab penuh Lion Air.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
juga merespons insiden pesawat Lion Air itu. Dia menyatakan telah
mendengar kabar tentang musibah yang terjadi di Bali tersebut. “Saya
mengikuti terus,” ujar SBY di Istana Cipanas kemarin.
SBY menuturkan telah berkomunikasi dengan
Menhub E.E. Mangindaan soal upaya penanganan dan evakuasi korban insiden
tersebut. Dia bersyukur karena kecelakaan pesawat itu tidak sampai
memakan korban jiwa. “Satu yang saya syukuri. Meski ini kecelakaan, tapi
tidak ada korban. Saya minta perawatan yang luka-luka itu. Diatasi
pesawat yang tidak pada tempatnya dan investigasi mengapa itu terjadi,”
tuturnya.
Tidak sekadar memanfaatkan media massa, SBY yang baru saja me-launching akun Twitter pribadinya juga menuangkan keprihatinan melalui akun miliknya @SBYudhoyono. Tweet soal musibah Lion Air tersebut menjadi tweet kedua yang diunggah SBY.
“Melalui media Twitter ini, saya menyampaikan, bisa diketahui mengapa terjadi kecelakaan. Itu oversuit melebihi runway yang ada. Saya kirim tweet kedua berkaitan dengan itu,” jelasnya.
“Terhadap kecelakaan Lion Air di Bali, saya
telah menginstruksikan Menhub untuk merawat yang luka dan melakukan
investigasi,” tulisnya. (pra/nik/dra/art/yes/din/jpnn)
[ Red/Administrator ]
#Source From : http://padangekspres.co.id/
#Source From : http://padangekspres.co.id/
Anda Baru Saja Membaca Berita Tentang "Tercebur ke Laut, 101 Penumpang Selamat". Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL https://rudi-apriasi.blogspot.com/2013/04/tercebur-ke-laut-101-penumpang-selamat.html.
[Home]