Thursday, April 11, 2013

Diduga Korban Perampokan

SOLSEL, HALUAN — Nurbani alias Mak Bani (80) warga Batang­lawe Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan ditemu­kan tewas mengenaskan di ruang tamu rumahnya, Selasa (9/4). Diduga korban tewas akibat aksi perampokan.
Nenek yang kesehariannya itu berprofesi sebagai dukun kampung yang mampu mengobati dan mem­bantu pasangan suami istri agar memiliki momongan itu, ditemukan tewas bersimbah darah dengan kondisi tertelungkup. Wajah dan lehernya luka lebam, sedangkan kulit dada di bagian kanannya mengelupas dan memar.
Kejadian itu dilaporkan ke Polsek Sungai Pagu. Kapolsek Sungai Pagu Iptu Nasirwan menye­butkan, diduga Mak Bani tewas karena dipukul dengan plang pintu rumah. “Pelaku diduga dua orang. Mak Bani diduga dipukul menggu­nakan plang pintu di bagian wajah yang menyebabkan dahi, hidung, mulut, dan sampai ke leher luka lebam,” ujar Kapolsek.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada perkembangan kasus yang mengarah kepada pelaku pembunuhan itu. “Sulit untuk diselidiki karena kejadiannya sudah dua hari, dan tidak ada satupun tetangganya yang tahu. Kalau tamu yang datang ke rumah Mak Bani itu memang banyak pada Minggu (7/4), tetapi masyarakat sekitar sudah maklum karena Mak Bani pandai memberikan obat tradi­sional,” terangnya.
Akibat kejadian itu, kalung yang dipakai Mak Bani seberat 8 emas raib, sedangkan uang sebesar Rp12 juta dan gelang seberat 8 emas yang juga dimiliki Mak Bani belum diketahui keberadaannya. “Kita akan terus kembangkan peristiwa ini,” pungkas Kapolsek.
Mak Bani sudah disemayamkan di belakang rumahnya di Batang­ lawe Kecamatan Sungai Pagu, Rabu (10/4). Anak-anaknya, cucu dan masyarakat setempat merasa haru dengan kepergian Mak Bani.
Hasil penelusuran Haluan ke lokasi kejadian, ada kemungkinan pelaku memasuki rumah Mak Bani dengan jalan paksa. Karena, satu bidang kaca rumah Mak Bani dicopot dan kawat pengaman rumah dilubangi. Kemungkinan, pelaku membuka plang pintu lewat kawat yang dilubangi.
Sejak kedatangan tim olah TKP kepolisian, semua orang dilarang memasuki rumah Mak Bani. Police line masih terpampang di depan rumah. Hal itu benar-benar mem­buat rumah Mak Bani sepi. Ling­kungan rumah dipenuhi tanaman dapur hidup, dan agak remang-remang.
Menurut keterangan cucu yang menemani Yeni (30). Ia menemukan neneknya pada Selasa (9/4) sekitar pukul 18.30 WIB. “Saya biasa meminta air sumur di rumah nenek, terakhir Minggu (7/4) kami masih berkunjung ke rumahnya. Sudah dua hari saya tidak melihat wajah beliau, maka saya telepon cucu nenek yang di Jakarta, namun nenek tidak ada di Jakarta,” jelasnya.
Mendengar jawaban nenek tidak ada di Jakarta, Yeni yang hanya berjarak 100 meter dari rumah neneknya itu melihat neneknya ke rumah. “Saat mendekat ke rumah nenek, saya mendengar suara TV sangat keras, saya ketuk pintu sambil memanggil nenek tetapi nenek tidak menjawab. Lama tidak menjawab, maka saya curiga sesuatu yang buruk terjadi maka saya dombrak pintu itu,” terangnya.
Saat pintu didobrak, Yeni melihat langsung tubuh neneknya tertelungkup di ruang tengah. Dengan kondisi bersimbah darah, kepala Mak Bani dialas pakai bantal. “Saya terkejut, dan saya minta tolong ke banyak tetangga, tetapi tetangga banyak yang tidak berani menolong karena mungkin takut diminta keterangan polisi. Akhirnya, saya temui Pak Jorong Aidil Fitri. Pak jorong memberitahu kepada kepolisian,” ucapnya.
Melihat kondisi tubuh neneknya bersimbah darah itu, Yeni ketaku­tan dan spontan mengeluarkan pekikan keras. Sehingga  warga setempat berhamburan keluar mendengar teriakan minta tolong dari Yeni. Isak tangis dan air mata yang tak terbendung, mengisi suasana haru dari Yani dan bersa­ma warga untuk melapor kepada kepala jorong setempat.
Dari keterangan beberapa warga yang ditanya tentang kematian Mak Bani, tidak ada seorangpun yang mengetahui ataupun yang mendengarnya. Walaupun jaraknya hanya 100 meter dari rumah neneknya itu, namun Yeni tidak pernah mendengar teriakan nenek­nya. Bahkan, dua rumah yang hanya 30 meter dari rumah Mak Bani tidak satupun dari anggota keluarga yang mendengar ada teriakan Mak Bani. Demikian dengan suara TV yang diakui banyak orang sangat keras dibunyi­kan, tetapi tetangga Mak Bani mengaku tidak tahu kapan suara tv itu mengeras.
“Mak Bani dalam keseha­riannya telah biasa menerima tamu dari jorong lain. Beliau dukun yang bisa membantu pasangan suami-istri untuk mendapatkan anak dengan uruik (pijatan)nya. Beliau sudah pernah naik haji, jadi beliau sering membaca Alquran tengah malam dengan mikrofon,” ujar Siel, tetangga jauh Mak Bani.
Demikian dengan anak tertua Mak Bani, Iswandi. “Saya baru tahu kalau ibu meninggal ketika diberita­hu sama adik saya si Emi. Saya terkejut, karena memang saya sudah lama tidak bertemu  dengan ibu,” ujarnya. Dari keterangan Iswandi, ia dengan adik-adiknya memang memiliki kerenggangan dengan orang tua mereka. Alasannya, Mak Bani marah dengan anak-anaknya. Entah soal apa, tetapi bagi Iswandi sendiri sudah hampir enam (6) tahun tidak menemui ibunya.
Tetangga Mak Bani bahkan nyaris memiliki hubungan dengan­nya. Kalau tidak anak, mungkin cucu, atau ada juga satu suku dengan mak bani. Akan tetapi, malang bagi yang sudah lama tinggal sendirian itu, tidak ada s­atu­pun tetangganya yang mengeta­­hui saat kejadian stragis itu terjadi.
Menurut Yeni dan warga seki­tar, Mak Bani masih mengaji pada Minggu (7/4) malam. Bahkan, banyak pasien yang datang berobat. Namun, dua hari setelah itu, sampai jasad Mak Bani ditemukan kaku, rumahnya selalu tertutup rapat, dan tidak ada tanda-tanda nenek itu sedang di rumah. Tetapi aneh, mengapa suara TV tidak terdengar juga oleh warga.
Iswandi anak tertuanya, mewa­kili anaknya yang lain, meminta agar aparat kepolisian dapat mengungkap pelaku perampokan yang menyebabkan orang tuanya tewas bersimbah darah.
“Saya berharap pihak kepolisian bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhan ibu saya, karena sudah tak manusiawi lagi. Bila ada warga yang mendengar peristiwa pembunuhan itu, berikanlah kesak­sian. Agar kasus ini, tak terulang lagi di daerah ini,”pintanya. (h/col)

#Source From : http://harianhaluan.com

Kualitas Halaman Ini

Followers